Search Suggest

Roster Shift Keamanan 24/7: Jadwal Patuh dan Realistis

Roster shift keamanan 24/7 sering bocor saat absensi dan jam kritis. Pelajari cara menyusun roster yang stabil, patuh, dan mudah diaudit.

Kebutuhan personel keamanan 24/7: cara menyusun roster shift yang realistis dan patuh aturan

Dua rujukan berikut kami jadikan landasan supaya pembahasannya tidak sekadar “feeling operasional”: artikel tentang tren pasar kerja 2026 yang menyoroti rekrutmen yang lebih berhati-hati dan kebutuhan literasi teknologi (baca: tren pasar kerja 2026 dan implikasinya bagi perusahaan) serta kajian ilmiah tentang dampak kerja shift terhadap kesehatan dan performa (baca: riset ilmiah mengenai shift work dan faktor risiko kelelahan).

Roster shift keamanan 24/7 di ruang kontrol: jadwal terstruktur di clipboard, radio komunikasi, jam digital, dan monitor CCTV bernuansa biru dengan aksen gold.
Contoh visual penyusunan roster shift keamanan 24/7 di ruang kontrol—fokus pada pemerataan jam kerja, kontinuitas penjagaan, dan kepatuhan operasional. (Ilustrasi oleh AI)

Ada satu momen klasik di pabrik, kawasan industri, gudang, atau kantor besar: Anda yakin kebutuhan keamanan itu “harus 24 jam”, tetapi begitu roster disusun, tiba-tiba muncul lubang coverage, lembur membengkak, dan petugas cepat lelah. Di titik ini, masalahnya bukan sekadar jumlah orang—melainkan desain jadwal kerja yang tidak selaras dengan ritme manusia, regulasi, dan realita site. Artikel ini membahas cara menyusun roster yang masuk akal, mudah diaudit, dan tetap menjaga kualitas pengamanan, dengan satu benang merah: roster shift keamanan 24/7.


1. Kenapa roster 24/7 sering gagal di lapangan

Roster gagal jarang terjadi karena tim tidak bekerja keras; lebih sering karena variabelnya banyak, namun perencanaannya terlalu sederhana. Roster yang “kelihatan rapi” di Excel bisa runtuh saat bertemu absensi, jam sibuk, dan insiden.

Gejala roster yang sedang menuju masalah

  • Banyak pergantian shift mendadak dan tukar jadwal “darurat” yang jadi kebiasaan.

  • Lembur lebih sering dipakai untuk menutup kekurangan orang, bukan karena kebutuhan insidentil.

  • Post/pos penjagaan tertentu sering kosong di jam-jam kritis.

  • Supervisor habis waktu untuk urusan jadwal, bukan pengawasan mutu.

Akar masalah yang paling umum

  • Perhitungan kebutuhan orang memakai asumsi “flat” (padahal beban kerja harian naik turun).

  • Tidak ada buffer resmi untuk cuti, pelatihan, sakit, atau kebutuhan back-up.

  • Pola shift tidak memperhatikan pemulihan (recovery) dan risiko kelelahan.

Roster yang baik itu bukan yang paling hemat di kertas, tetapi yang paling stabil di lapangan.


2. Prinsip desain roster: realistis dulu, baru efisien

Sebelum membahas formula, mulai dari prinsip. Di layanan keamanan, stabilitas dan kepatuhan adalah fondasi. Setelah itu barulah efisiensi bisa dikejar tanpa mengorbankan mutu.

Prinsip yang sebaiknya jadi “aturan main”

  • Coverage tidak boleh ditawar: pos kritis harus aman di jam kritis.

  • Recovery harus dihitung: petugas yang lelah bukan hanya risiko K3, tetapi juga risiko keamanan.

  • Auditability: jadwal harus mudah dibuktikan dan ditelusuri (siapa, kapan, di mana).

  • Fleksibilitas terkontrol: boleh tukar shift, tetapi ada batas dan mekanismenya.

Bedakan kebutuhan: pos statis vs patroli dinamis

  • Pos statis: membutuhkan konsistensi, ketepatan pergantian, dan penugasan yang disiplin.

  • Patroli dinamis: butuh pola kerja yang meminimalkan monotoni dan menjaga kewaspadaan.

Banyak klien kami mengunci kualitas lewat pendekatan yang terukur, termasuk evaluasi post, rute patroli, dan teknologi pendukung dalam layanan Integrated Security Solutions.


3. Menghitung kebutuhan personel: dari post ke headcount yang masuk akal

Di bab ini, kita masuk ke bagian yang paling sering ditanya: “Sebenarnya butuh berapa orang?” Jawabannya harus dimulai dari struktur post dan waktu kerja, lalu ditambah allowance yang realistis.

Cara berpikir cepat: hitung jam coverage, bukan hanya jumlah pos

  1. Tentukan jumlah pos dan jam aktif per pos.

  • Contoh: 3 pos aktif 24 jam → 3 × 24 jam coverage per hari.

  1. Tentukan pola shift (mis. 8 jam atau 12 jam).

  2. Masukkan allowance.

  • Cuti, izin, sakit, pelatihan, dan kebutuhan back-up.

Tabel contoh komponen allowance (untuk memaksa realistis)

KomponenKenapa wajib dihitungDampak kalau diabaikan
Cuti tahunanHak normatif dan perencanaan rotasiKekurangan orang periodik
Sakit/izinRealita operasionalLembur mendadak membengkak
Pelatihan & briefingMenjaga kualitas dan kepatuhanKualitas turun, audit sulit
Buffer insidenCadangan saat kejadianPos kosong atau overwork

Catatan praktis: allowance bukan “pemborosan”. Ia adalah biaya untuk menjaga service level tetap utuh.


4. Memilih pola shift: 8 jam vs 12 jam, kapan cocoknya

Tidak ada pola shift yang universal. Yang penting: Anda tahu trade-off-nya dan memilih sesuai karakter site.

Shift 8 jam: keunggulan dan tantangan

  • Keunggulan: recovery lebih mudah, cocok untuk site dengan ritme kerja tinggi dan banyak aktivitas.

  • Tantangan: frekuensi pergantian lebih banyak, koordinasi lebih kompleks.

Shift 12 jam: keunggulan dan tantangan

  • Keunggulan: pergantian lebih sedikit, kadang terasa lebih stabil.

  • Tantangan: risiko kelelahan lebih tinggi bila tidak ada kontrol dan jeda yang baik.

Tips modern: hybrid schedule untuk jam kritis

Bila site punya jam ramai tertentu (mis. shift produksi pagi, loading malam), pertimbangkan penguatan parsial (floating guard) di jam kritis daripada menambah full coverage sepanjang hari.


5. Roster yang patuh aturan: fokus pada jam kerja, istirahat, dan bukti administrasi

Bab ini penting karena roster tidak hanya berdampak pada operasi, tetapi juga pada kepatuhan. Roster yang rapi memudahkan payroll, mengurangi friksi, dan menurunkan risiko perselisihan.

Checklist kepatuhan yang wajib ada di roster

  • Jam kerja per orang terukur dan konsisten.

  • Pola istirahat dan jeda antar shift (minimal recovery) diperhatikan.

  • Mekanisme lembur jelas: kapan boleh, siapa yang menyetujui, dan bagaimana dicatat.

  • Rekam jejak penugasan: penempatan, pergantian, dan alasan perubahan.

Dokumen pendukung yang sering diminta saat audit internal

  • Jadwal bulanan dan realisasi harian.

  • Daftar hadir dan bukti serah terima.

  • Catatan insiden dan eskalasi.


6. Contoh roster 24/7 yang lebih mudah dijalankan

Agar tidak berhenti di teori, berikut contoh format roster yang “enak” dipakai tim lapangan dan mudah dimonitor.

Contoh format roster ringkas (struktur)

  • Tim A, Tim B, Tim C, Tim D (rotasi)

  • Ada 1–2 personel cadangan (floating) yang tidak mengisi pos tetap, tetapi siap menutup gap.

Tabel contoh pembagian peran di satu shift

PeranFokus utamaOutput yang diharapkan
Pos utamaKontrol akses & tamuLog masuk-keluar rapi
Pos areaMonitoring area kunciPencegahan pelanggaran
PatroliRonda & inspeksiTemuan tercatat + tindak lanjut
Floating/back-upTutup gap & respons insidenPos tidak kosong, respons cepat

Format seperti ini membantu supervisor fokus pada kualitas, bukan terus-menerus memadamkan “kebakaran roster”.


7. HowTo: menyusun roster shift dari nol (yang bisa langsung dipakai)

Bagian ini kami susun seperti playbook. Anda bisa adaptasi untuk pabrik, gudang, perkantoran, atau kawasan industri.

HowTo langkah demi langkah

Tujuan: membuat roster yang stabil, patuh, dan tetap menjaga kewaspadaan personel.

Yang dibutuhkan: data pos, jam kritis, jumlah personel, aturan internal, dan kebijakan cuti/pelatihan.

Langkah-langkah:

  1. Petakan pos dan jam kritis: tandai titik rawan (jam bongkar muat, pergantian shift produksi, jam tamu).

  2. Tentukan pola shift utama: pilih 8 jam/12 jam atau hybrid sesuai beban site.

  3. Hitung allowance secara terang: cuti, sakit/izin, pelatihan, buffer insiden.

  4. Buat roster 4 minggu: lebih mudah menjaga keseimbangan rotasi daripada hanya 1 minggu.

  5. Pasang kontrol perubahan: tukar shift harus tercatat dan disetujui.

  6. Lakukan uji coba 2 minggu: ukur gap coverage, lembur, dan beban supervisor.

  7. Kunci SOP serah terima: pergantian shift adalah titik rawan, jadi harus distandarkan.

Pro tip: apabila kebutuhan tenaga kerja berubah-ubah (peak season), beberapa perusahaan memilih dukungan staffing yang fleksibel melalui Manpower Solutions Provider agar coverage tetap terjaga tanpa membuat roster inti jadi “keteteran”.


8. Faktor manusia: kelelahan, kewaspadaan, dan kualitas pengamanan

Roster yang patuh di kertas tetap bisa gagal bila mengabaikan faktor manusia. Kelelahan dan penurunan kewaspadaan berdampak langsung pada risiko keamanan, mutu layanan, dan keselamatan kerja.

Cara sederhana menjaga kewaspadaan tanpa menambah orang

  • Rotasi tugas ringan-berat: jangan menempatkan tugas monoton terlalu lama.

  • Briefing singkat namun rutin: 5–10 menit fokus prioritas shift.

  • Checklist patroli yang realistis: tidak terlalu panjang, tetapi konsisten.

  • Supervisi berbasis data: jam temuan, jam insiden, jam rawan.

Jangan lupakan lingkungan kerja pendukung

Kualitas pengamanan sering meningkat ketika area kerja lebih tertata dan higienis, karena akses, visibilitas, dan kenyamanan personel lebih baik. Di sejumlah site, perbaikan ini juga dilakukan lewat penataan area dan standar kebersihan menggunakan Specialized Cleaning Services yang terintegrasi dengan kebutuhan operasional.


9. Roster dan ekosistem operasional: transport, respons, dan koordinasi

Keamanan 24/7 sering terkait dengan mobilitas: patroli area luas, respons insiden, pengantaran dokumen, hingga kebutuhan operasional eksekutif. Roster yang bagus mempertimbangkan bagaimana tim bergerak, bukan hanya duduk di pos.

Praktik yang sering membantu site besar

  • Kendaraan respons untuk jam rawan.

  • Rute patroli yang berganti (menghindari pola yang mudah ditebak).

  • Koordinasi akses: tamu/vendor/logistik terjadwal.

Untuk site yang membutuhkan pengemudi operasional yang disiplin dan berorientasi keselamatan, beberapa perusahaan mengintegrasikan dukungan layanan Professional Driver Services guna memperkuat respons dan mobilitas tanpa mengganggu roster inti.


10. FAQ: pertanyaan yang paling sering muncul soal roster keamanan 24/7

Di bab ini, kami rangkum pertanyaan yang biasanya muncul dari HR, GA, operasional, dan manajemen site saat menyusun jadwal penjagaan.

Berapa tim ideal untuk coverage 24/7?

Tergantung jumlah pos, pola shift, dan allowance. Prinsipnya: hitung jam coverage lalu tambahkan allowance yang realistis untuk cuti, sakit, pelatihan, dan buffer insiden.

Apakah shift 12 jam selalu lebih hemat?

Belum tentu. Kadang terlihat hemat karena pergantian lebih sedikit, tetapi bisa meningkatkan risiko kelelahan dan menambah insiden kecil yang berdampak pada kualitas.

Kenapa roster sering bocor saat peak season?

Karena kebutuhan tenaga meningkat sementara allowance tidak disiapkan. Solusinya: buat skenario roster untuk jam kritis dan siapkan floating/back-up.

Apa indikator roster sudah “sehat”?

Gap coverage rendah, lembur terkontrol, pergantian shift rapi, dan supervisor punya waktu untuk inspeksi kualitas, bukan hanya mengurus jadwal.

Bagaimana cara mengurangi konflik jadwal antar personel?

Gunakan aturan tukar shift yang jelas, transparansi rotasi, dan rilis roster lebih awal agar personel bisa mengatur kebutuhan pribadinya.


11. Tentang BIG dan alasan kami membahas topik ini

Kami mengangkat topik roster 24/7 karena ia adalah titik temu antara kualitas layanan, keselamatan kerja, dan kepatuhan—tiga hal yang menentukan reputasi layanan keamanan di mata klien. PT Bima Indo Garda (BIG) adalah perusahaan nasional di bidang outsourcing dan solusi jasa terpadu, termasuk layanan keamanan, kebersihan, penyediaan tenaga kerja, serta driver.

Sebagai perusahaan jasa pengamanan, kami menempatkan kepatuhan dan tata kelola sebagai prioritas. PT Bima Indo Garda terdaftar di Kementerian Hukum Republik Indonesia, terafiliasi dengan Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia ABUJAPI, serta terdaftar pada Kemenkeu.


Saat roster Anda sudah rapi, keamanan jadi lebih tenang

Sebagai penutup, roster yang baik membuat site terasa berbeda: pergantian shift lebih tertib, pos tidak mudah kosong, supervisor fokus pada mutu, dan personel lebih terjaga kewaspadaannya. Mengakhiri artikel ini, kami sarankan Anda memulai dari yang paling fundamental—pemetaan pos, jam kritis, allowance realistis, dan kontrol perubahan—baru kemudian mengoptimalkan efisiensi.

Pada akhirnya, keamanan 24/7 bukan hanya soal “ada orang berjaga”, tetapi soal sistem kerja yang konsisten dan bisa dipertanggungjawabkan.

Jika Anda ingin mendiskusikan kebutuhan roster, desain post, atau penguatan layanan keamanan di site Anda, silakan hubungi Contact PT Bima Indo Garda atau gunakan tombol WhatsApp di bagian bawah artikel ini.